ISU GENDER DI RUMAH KAYU

11 January 2010 at 12:19 | In Opini |
Tags: ,

Seorang D’blogger pernah berkomentar bahwa blog Rumah Kayu (selanjutnya saya singkat menjadi “Rumyu”) ibarat pasar modern, apa saja ada di sana. Mulai dari topik tentang cinta, keluarga, anak, resep masakan, tips memelihara tanaman, sampai ….ini topik yang paling saya suka…pembahasan masalah gender.

Dalam buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu (selanjutnya saya singkat menjadi “SCRK”), topik masalah gender kembali diikutsertakan untuk dipublikasikan. Setidaknya ada 3 artikel yang secara tersurat membahas gender dalam SCRK, yakni “Ada Apa dengan (Prestasi) Anak Lelaki?” (hal. 73) , Akankah Masalah Baru (Karena Prestasi) Timbul Kelak?” (hal. 77) dan “Gejolak Yang Mulai Membakar:Perbedaan itu” (hal. 214).

Dua artikel pertama membahas fakta-fakta hasil penelitian atas kondisi terkini mengenai perbedaan prestasi akademis dan karir antara lelaki dan perempuan, yang diikuti dengan pembahasan mengenai cara mengantisipasi kemungkinan masalah yang timbul akibat perbedaan tersebut. Sedangkan artikel terakhir lebih membahas perbedaan orientasi atas cinta dan seks antara lelaki dan perempuan.

Kali ini saya akan fokus pada artikel yang berjudul “Akankah Masalah Baru (Karena Prestasi) Timbul Kelak?”, yang tentu saja ketika membahas artikel ini, saya juga tidak bisa lepas dari artikel “Ada Apa dengan (Prestasi) Anak Lelaki?”.

Artikel “Akankah…” membahas secara mendalam mengenai bagaimana bila prestasi perempuan lebih maju dari pasangannya dan pengaruhnya terhadap kehidupan rumah tangga serta bagaimana mengantisipasinya.

Dalam artikel tersebut di atas, penulis SCRK berpendapat bahwa lelaki banyak menaruh ego atas prestasi dan pekerjaannya. Seperti yang dibahas pada artikel sebelumnya, untuk setiap langkah maju perempuan, ada satu level ego lelaki yang harus diturunkan. Bila dalam jangka waktu panjang prestasi perempuan (baca istri) lebih bagus dari pasangannya maka dikhawatirkan ego sang lelaki tercederai. Banyak contoh kehidupan yang memperlihatkan efek negatif dari keadaan tersebut. Suami yang semakin menekan istrinya karena iri melihat karir istrinya semakin berkibar, timbulnya kekerasan rumah tanggga (baik kekerasan fisik dan verbal) dan ujung-ujungnya mahligai rumah tangga berada diujung tanduk.

Ada saran menarik yang ditawarkan oleh penulis untuk mengantisipasi keadaan ini. Bila dalam artikel “Ada Apa dengan (Prestasi)…”, penulis menyarankan agar para orang tua mendidik anak-anak lelaki agar dapat berprestasi sehingga dapat menyamai prestasi anak perempuan atau mungkin lebih, pada artikel “Akankan Masalah….” penulis menyarankan para orang tua yang mendidik anak perempuannya untuk maju harus juga membekali anak gadisnya dengan paham “cari laki-laki berwawasan luas yang tidak egois”.

Ada sedikit kritik dari saya, atas kedua saran tersebut di atas. Atas saran pertama, yakni mendidik laki-laki untuk berprestasi agar bisa menyamai atau melebihi prestasi anak perempuan, dikhawatirkan akan menciptakan suasana persaingan yang tidak sehat, karena saya menangkap kesan (mohon maaf kalau saya salah menginterpretasikan saran tersebut), adanya saran untuk mendidik anak lelaki melebihi anak perempuan. Bagi saya, ini akan semakin membenarkan paham patrilineal.

Kekhawatiran lain adalah apabila anak lelaki dituntut melulu untuk berprestasi, maka bila ternyata dikemudian hari, karena faktor eksternal, sang anak lelaki ternyata tidak berprestasi sesuai yang diharapkan, akan menjadi lelaki pria yang frustasi.

Sedangkan terhadap saran yang kedua, yakni mencari pria yang berwawasan luas yang tidak egois, menurut saya agak sulit untuk diwujudkan tanpa diimbangi bekal pemahaman pada anak lelaki bahwa mereka bukanlah center ego. Hal ini urgent mengingat latar belakang budaya patrilineal yang kuat yang berlaku di masyarakat Indonesia, dimana lelaki lebih didahulukan/diutamakan dalam segala hal dibanding anak perempuan.

Egois (dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti orang yang selalu mementingkan diri sendiri), terutama bagi laki-laki, seakan sudah diberi ruang oleh apa yang disebut tradisi, budaya, bahkan norma-norma agama. Alih-alih mendapatkan pria yang tidak egois, akan banyak perempuan yang memutuskan untuk lebih baik melajang selamanya.

Oleh sebab itu, saya berpendapat bahwa selain memberi bekal bagi anak lelaki (dan tentu saja anak perempuan) agar berprestasi, bekal pemahaman bagi anak perempuan untuk mencari pasangan (suami) berwawasan luas yang tidak egois, akan semakin lengkap bila para orang tua dalam mendidik anak lelaki (dan anak perempuan juga tentunya) untuk menjadi pribadi yang tidak egois. Karena akar dari permasalahan adanya gap ini adalah, seperti yang pernah disebutkan oleh penulis Rumyu, masalah ego.

Menurut saya, paham bahwa perempuan sebagai alter ego laki-laki harus dikikis pelan-pelan. Dan itu semua bisa dimulai dari cara kita mendidik anak-anak kita, tidak membedakan antara anak-anak lelaki dan perempuan, bekal pemahaman bahwa laki-laki dan anak perempuan mempunyai kesempatan yang sama, mendidik mereka untuk tidak melulu mementingkan diri sendiri, untuk lebih empati dan saling menghormati satu sama lain.

Perempuan yang tidak egois akan selalu menghargai pasangannya semaju apapun karir perempuan tersebut. Sementara laki-laki yang tidak egois siap menyikapi kemajuan pasangannya dengan bijak bahkan mendukung sepenuhnya. Saya setuju sekali dengan definisi penulis SCRK soal “kemajuan”, tidak hanya absolut soal jabatan dan penghasilan, tapi lebih kepada kualitas pribadi yang baik.

Terlepas dari kesan bahwa Rumah Kayu dan SCRK berusaha untuk hati-hati  dalam mengulas masalah yang relatif masih sensitif ini, namun ide untuk membahas masalah gender, bahkan lebih dari satu artikel, patut diacungi jempol, apalagi mengingat salah satu penulis SCRK adalah seorang laki-laki. Ini cukup meyakinkan saya, bahwa lelaki dalam Rumah Kayu adalah lelaki yang berwawasan luas dan tidak egois itu. Ehhmm.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

25 Comments

»

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wah… cepat banget buat reviewnya.
    Bisa jadi salah satu referensi nih.

    Good Luck! ;)

       masdin — 11 January 2010 #

  2. wah, postingnya sangat menarik, dan dibahas dengan sangat menarik pula….

    tengkyu ya mou…kayaknya bisa masuk nominasi, hehehe

    (btw, kalu gak dipancing dengan kontes beginian, mana ‘berani’ mou berbeda pendapat dengan rumahkayu ya? hahahahaha ;)

    tengkyu again…

       kuti — 11 January 2010 #

  3. thanks mou…
    dan… ayo nulis yg banyak — bikin lagi posting dg topik lain ya? :-)

    btw… tulisan ini masuk hot blog… :P

    d.~

       'dee — 11 January 2010 #

  4. adanya saran untuk mendidik anak lelaki melebihi anak perempuan. Bagi saya, ini akan semakin membenarkan paham patrilineal. Buat yang satu ini saya 100 persen setuju. Bila kita selalu saja terjebak oleh paham laki-laki dan perempuan itu dari sononya begitu. Maka, kesetaraan akan menjadi mimpi belaka. Yang perlu di rubah mindsetnya laki-laki (juga perempuan)

       penyuuuuuuuu — 11 January 2010 #

  5. lohh… masalah gender tuh masih musim ya?
    buat gw sih harusnya udah ga musim lg lah.

    apalagi ‘mendoktrin’ spy mndidik anak laki2 lbh dr anak perempuan. kok sounds way too much ya.

    gw yg single ini jga msh blm ngerti knp prbedaan penghasilan suami istri bs ‘merusak’ keharmönisan. bknkah suami n istri hrsnya saling mendukung. ahh mgkn gw aja yg blm paham karna blm menjalaninya yah.

       depz — 11 January 2010 #

  6. mungkin perlu mendidik anak laki2 menjadi lebih baikdr perempuan..secara kan nantinya laki2 akan menjadi kepala keluarga dan imam.

       melly — 12 January 2010 #

  7. huaaa udah ngereview ajah… waduh sayah kapan ya? secara, bukunya masih dipinjem :((.
    salam kenal

       quinie — 12 January 2010 #

  8. Apalagi kalo suami-istrinya dari kalangan artis, lebih rumit lagi dan cenderung istri lebih merasa di atas angin. He .. he .. he .. nyambung ga ya? :)

    Salam. 8-)

       lamunadi — 12 January 2010 #

  9. hak untuk berprestasi antara pria dan wanita tidak dibedakan selama tidak bertentangan dengan kodrat dan ketentuan agama, satu permasalahan mengapa pria terkesan (atau mungkin memang jauh dibawah perempuan prestasinya) adalah pada sisi tanggung jawab untuk menghidupi keluarga secara lahir, baik itu untuk adik-adiknya, ibunya atau bapaknya yg sudah tidak mampu lagi bekerja, sehingga pria lebih condong mengabaikan prestasi dibandingkan wanita. Saling memahami dan menghargai terhadap kelebihan dan kemampuan antara pria dan wanita tentunya bukan hal yang basi untuk terus dilakukan. Menjadikan prestasi sang wanita sebagai sarana untuk “mempersatukan” dan mengelola ego pria tanpa harus merasa dilecehkan sangat perlu untuk dijaga dan diberikan ruang kesepahaman.

       R2G — 12 January 2010 #

  10. waah…cepet banget bikin postingnya mou
    good luck yah :D

       papadanmama — 12 January 2010 #

  11. benar2 ispiratif postingannya dan dalam pemahamannya sangat apik……good luck :)
    semoga masuk nominasi juara……..amin..:D

       tse-full — 12 January 2010 #

  12. Laki-laki dan perempuan memang harus dididik dengan tujuan sama, tapi dengan gaya berbeda.
    Mereka dididik bukan untuk saling mengalahkan, tapi buat mengisi kekurangan satu dengan yang lain… :)
    Selamat mengikuti lomba, Mou…ditunggu posting berikutnya ya (ssst, tapi jangan lama-lama… :P )…
    Peace ah!

       bintangtimur — 13 January 2010 #

  13. gender….
    cepet banget baca buku rumah kayu nya
    btw…review yg menarik..nice postingan

       pinkie48 — 13 January 2010 #

  14. Gender bisa kita definisikan dengan memberi hak dari masing masing porsi dan kodratnya sehingga bisa saling mengisi dan saling menjaga tugas dan peranan masing masing :)

       anny — 13 January 2010 #

  15. sekedar mengingatkan, hari ini 15 januari 2010 akan ada gerhana matahari,…bagi saudara2 yg ingin mengerjakan shalat gerhana, bisa melihat tata cara shalat gerhana di sini : http://zamzampublishing.wordpress.com/2010/01/15/gerhana-matahari-cincin-15-januari-2010-begini-tata-cara-shalat-gerhana/

       Penerbit Zamzam — 15 January 2010 #

  16. susah komen ah di postingan sebagus ini, ngincer i pod ni yeee

       Luv — 15 January 2010 #

  17. penuh hikmah bro….

       supriatno — 16 January 2010 #

  18. Wanita dikenal dengan kemampuan multitasking nya, konon katanya nih wanita sanggup melakukan beberapa hal sekaligus tanpa kehilangan fokus. Wanita sanggup menyetir, sambil dandan, sms, ngobrol dll…:) tapi jangan ditiru ah :)
    Sedangkan lelaki konon katanya lebih fokus dan berkonsentrasi pada satu bidang yang spesifik, mungkin itu sebabnya banyak lelaki yang suka balapan ya…karena sangat fokus dan butuh konsentrasi tinggi.
    Salam kenal :)

       erryandriyati — 18 January 2010 #

  19. kalo saya sih realitis aja . .perempuan bisa nyetir ok. . .laki-laki bisa masak yes. . .so sewaktu-waktu harus lakukan sendiri . .. semua bisa beres.

       retnorini — 22 January 2010 #

  20. [...] Isu Gender di Rumah Kayu, yang dipublikasikan di [...]

       p.s. i love you » Blog Archive » And the winner is….. — 1 February 2010 #

  21. [...] Isu Gender di Rumah Kayu, yang dipublikasikan di [...]

       Blog Detik » Blog Archive » Pemenang Rumah Kayu Writing Contest — 1 February 2010 #

  22. [...] Isu Gender di Rumah Kayu, yang dipublikasikan di [...]

       Pemenang Rumah Kayu Writing Contest | Satlaser.com — 1 February 2010 #

  23. Selamat.
    Anda layak dapat bintang.
    Tetap semangat.

       Astaga.com lifestyle on the net — 7 February 2010 #

  24. hidup emansipasi wanita, saya bangga akan perjuangan ibu kartini, sosok perempuan yang tangguh… terimakasih atas referensinya pak, bu,,

       pulung anggi — 21 June 2010 #

  25. hidup emansipasi wanita, saya bangga akan perjuangan ibu kartini, sosok perempuan yang tangguh.

       pulung anggi — 21 June 2010 #

Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^